“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." Luk15:7
Baca: Lukas 15:11-32
Sama seperti saya pernah mendengar orang-orang berdoa seperti ini: ”Tuhan jangan permalukan kami” (pada hal mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka mempermalukan Allah karena sikap hidup mereka), mereka juga berkata demikian: ”Tuhan penuhilah kami dengan sukacita surgawi”, pada hal mereka sendiri tidak tahu apa yang membuat surga bersuka cita.
Apa yang membuat Allah beserta para malaikat di sorga bersukacita?
Baiklah saya mengajak Pembaca sekalian merenungkan mengapa Yesus mengutarakan perumpamaan-perumpamaan dalam Lukas 15. Perumpamaan ini disampaikan karena ada pertentangan di antara orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat dengan Yesus mengenai orang berdosa (15:2). Mereka bersungut-sungut, sehingga Yesus menceritakan tiga perumpamaan di mana ada sukacita di surga: Pertama, satu ekor domba yang hilang di antara 100 ekor ditemukan (15:1-7); kedua, satu dirham yang hilang di atara 10 dirham ditemukan (15:8-10); dan ketiga, seorang anak yang hilang di antara kedua bersaudara didapati kembali oleh bapanya (15:11-32). Mari melihat perbandingan dari ketiga perumpamaan tersebut: Siapa yang dimaksud Yesus dengan 99 ekor domba, 9 dirham, dan 1 orang kakak yang marah-marah, bersungut-sungut dan membenarkan dirinya? Bukankah mereka itu adalah orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat, yaitu orang-orang yang menganggap dirinya sendiri benar? Sangat disayangkan, karena ternyata bahwa sukacita di sorga adalah sungut-sungut di antara para pemimpin agama.
Dalam perumpamaan yang kita baca tersebut, kita menemukan tiga karakter utama, yaitu: Anak bungsu (11-16), sebagai subjek kebodohan; Bapa (17-24), sebagi subjek kasih besar; Anak sulung (25-32), sebagi subjek sungut-sungut, amarah, dan pembenaran diri. Berdasarkan ketiga karakter tersebut, maka kita menemukan sasaran perumpamaan ini:
1. Anak bungsu yang bodoh dan berdosa, menunjuk kepada jemaat yang bodoh dan berdosa
2. Bapa yang penuh kasih, menunjuk kepada Allah Bapa yang memiliki hati dgn kasih yang besar (lih. Yoh 3:16; Roma 5:8; 2 Ptr 3:9)
3. Anak sulung yang bersungut-sungut, marah, dan membenarkan dirinya, menunjuk kepada para pemimpin rohani yang suka bersungut-sungut, marah-marah, dan sering membenarkan dirinya.
Pertanyaan untuk direnungkan: Mungkinkah seseorang menaati hukum Allah tanpa mengormati Allah? Itu mustahil bukan?
Saudara seperti siapa? Seperti anak bungsu atau anak sulung? Anak bungsu memerlukan KASIH, PENGAMPUNAN, dan PENERIMAAN. Anak sulung seperti orang kaya yang membenarkan diri atau seperti orang yang berdoa dengan pembenaran diri, memerlukan KERENDAHAN HATI, MATI BAGI DIRINYA DAN BERSATU DENGAN KRISTUS.
Apa yang telah diperbuat Allah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut? Ini adalah masalah DOSA! Alkitab berkata: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Hati Allah menunjukkan bahwa IA mengasihi kedua anak-Nya, tetapi sambutan dan sukacita hanya terjadi ketika ada anak-anaknya yang menghormati Dia dengan menanggapi kasih karunia-Nya. Apakah Anda mau menanggapi hati Bapa yang penuh kasih itu?
Inilah doa saya untuk Anda ketika Anda selesai membaca ini: “Bapa, mungkin yang membaca tulisan ini sama seperti anak yang hilang itu ataupun anak yang membanarkan dirnya, tolonglah dia supaya ia mampu menanggapi kasih karunia-Mu yang besar itu, sehingga ia ditemukan kembali oleh-Mu dan ia turut menikmati perayaan sukacita surgawi. Dalam nama Yesus Kristus, Amin!” OZ
No comments:
Post a Comment